Lembah Setan

Aku terlahir dari rahim wanita desa yang cantik …

berasal dari keluarga berada yang kemudian jatuh bangkrut …

Ayah-ku seorang guru SD yang juga di kenal sebagai tokoh agama di desaku …

tak ada yang bisa menyangkal kalau aku memiliki keluarga yang utuh …

terlahir no 5 dari 7 bersaudara … yang menjadi no 4 karena kk perempuanku meninggal saat kecil …

namun karena beberapa hal … kami dimusuhi banyak pihak yang kurang suka (off the record)

kami melewati hari2 sebagai keluarga yang mandiri … dengan segala kekurangan finansial yang sangat parah… makan saja kami harus memanen jagung muda yang ditanam bapakku dipekarangan gubuk kami … ya gubuk … bilik yang bertahan dari tahun 1975 sampai dengan sekarang ( saat kisah ini ku tuliskan 14 Juni 2008 ) …dulu bilik itu adalah bekas kandang sapi yang sudah tidak dipakai … hanya rangka saja … tampa dinding tanpa atap apalagi plafon … dan akulah anak yang pertama menempatinya dengan tanpa atap tanpa dinding … dengan nyamuk sebesar gajah … tapi aku bisa tidur dengan nyenyak (kisah ibuku) …disela2 kerjanya saat pulang bapak menambal sana2 bilik kami dengan “sesek” … demikian juga plafonnya … hanya karena dia ingin memenuhi kewajibannya memberi “rumah” buat anak dan istrinya … sampai beliau pernah jatuh sakit karena kecapean …

bapakku kerja di pabrik sarung … serabutan … ibuku penjahit … gaji bapakku hanya cukup untuk beli LAS (beras dari gilingan jagung) yang jangankah lembut tapi biji jagung yang dibelah 2 saja saking kasarnya …kakak2ku sekolah dengan apa adanya … bahkan seragam sekolah kami adalah bekas kain korden … siang saat bapakku kerja kami memanen jagung yang belum layak panen untuk mengganjal perut kami … digiling dijadikan “beras” … sehingga kami “membantu” bapak agar tidak terlalu “nelangsa” karena “beras” yang sudah menipis … kakakku sembunyi2 kerja di pabrik makanan kecil (jipang) agar bisa membantu adik2nya … dia kakak pertamaku … kadang dia cari ikan atau kerang di sungai agar bisa dimasak ibu untuk lauk … ya … kami bertahan dengan cara kami …

gaji bapakku hanya cukup untuk beli beras jagung dan ikan asin … biasanya kami membelanjakannya sekaligus agar bertahan dalam satu bulan meski itu tidak pernah … karena kami menambalnya dengan panen kami di pekarangan …ya … dengan kata lain … KAMI KURANG MAKAN … padahal kami dari keluarga yang kaya raya dan kecukupan … tapi itulah 2 orang tuaku yang sangat aku hormati … demi prinsip yang diyakininya … TIDAK PERNAH SURUT apalagi PUTUSASA …

(bersambung)

5 thoughts on “Lembah Setan

  1. Seperti melihat cermin kehidupanku sendiri…..I do proud of my parents that never give up no matter what happen…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s