Kadal di Negeri Senewen (copast from detik)

Djoko Suud Sukahar – detikNews


Jakarta – Ini negeri sejuta janji. Dasarnya slogan. Kebijakannya pamflet. Pejabatnya pemalas dan tukang buat alasan. Ditambah rakyatnya ngegosip dan ‘ngerumor’, lengkap satu paket sebagai negara ‘halusinasi’. Nyaman  di tengah kebisingan kalimat-kalimat liris. Massal terjangkit megalomania. Nikmat berkelana dalam impian di tengah kekacauan hidup nyata.

Dari Orde Lama sampai Orde Reformasi tak banyak berubah paket itu. Sejak dulu saya selalu mendengar rakyat akan sejahtera, pendidikan murah, pengangguran nihil, pekerjaan gampang, hidup ayem tentrem karta raharja. Persis gambaran zaman Kalasuba yang disuratkan Jangka Jayabaya.

Kata-kata klise itu diulang-ulang keluar dari mulut para pemimpin negeri. Pemerintahan bersih, jabatan yang amanah, anti korupsi janji aksioma. Kata-kata indah itu meluncur ringan dari bibir berbeda-beda, tapi nada, diksi dan aksentuasinya sama. Mulut itu membeo. Robot terprogram, programernya jabatan dan kekuasaan.

Tapi apa tindakan di balik keluhuran kata itu? Hampir semuanya korupsi. Baik yang tertangkap atau yang belum tertangkap. Baik yang bagian menangkap koruptor maupun yang tampilannya santun, dermawan, dan agamis. Negeri ini memang sudah terjangkit virus korupsi paling akut.

Lihat kabar yang tersebar saban hari. Korupsi terjadi di mana-mana. Pejabat atau wakil rakyat sama saja. Penegak hukum atau korban hukum melakukan langkah serupa. Menyogok atau disogok. Mereka pakar penilep uang rakyat, yang membuat kita sering memakai idiom mereka, uang dengar, uang tutup mulut, uang kerohiman, yang konotasinya adalah komisi atau dana kutip.

Virus ini merambah seluruh sektor.  Tak terasa kita jadi piawai. Menjadi jagoan ngadali dan ngakali. Kadal bertemu kadal beranak kadal, dan entah berapa generasi lagi negeri ini bisa sama kata dan tindak, bisa beriman sebetul-betul iman pada Tuhan. Sebab semuanya ramai-ramai mencari kesempatan untuk melakukan kebobrokan itu.

Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Satgas Mafia Hukum ternyata tidak mematikan virus itu. Malah virus ini kian cerdas untuk jadi kadal sejati. Tidak mau lagi pegang pimpinan proyek atau bagian pembelian yang selama ini ‘ladang kutip’, tetapi negosiasi siluman korupsi yang aman. Sosialisasi program digalakkan, dan dari sini istilah belah durian diberdayakan. Gol, hasilnya dibagi dua.

Virus itu sudah memasuki aliran darah. Otak dan rasa terkontaminasi. Kemanusiaan dan keyakinan tak mampu mencegahnya untuk berhenti. Malah mayoritas berasumsi ibadah pada Tuhan wajib, tetapi maksiat jalan terus.Tindakan jelek dianggap maqom manusia. Dan kejelekan itu seluruh atau sebagian ditimpakan pada setan yang pekerjaannya memang menggoda.

Makin tahun warga yang waras makin sedikit. Penjara penuh sesak  dihuni mantan warga terhormat. Ada gagasan penjara akan direnovasi agar sejuk, indah dan nyaman. Gagasan itu naga-naganya bukan ide yang didasarkan atas nama kemanusiaan, tetapi karena banyaknya para ‘mantan terhormat’yang komplain hidup di penjara tidak enak.

Kalau ingin memanusiakan manusia, rakyat papa yang mayoritas menghuni negeri ini adalah prioritas yang layak diberdayakan. Bukan koruptor, perampok, maling yang menipu, memeras dan menista rakyat jelata. Memiskinkan dan membodohkan rakyat adalah tindakan barbar. Manusiawikah memanusiakan ‘mantan barbarik’ ketimbang memanusiakan rakyat yang kelaparan?

Ini memang negeri senewen. Di negeri ini semua orang bicara kebaikan, tetapi semua orang berbuat tidak baik.

Djoko Suud, budayawan tinggal di Jakarta.

catatan b4df4c3 : “lebih baik bekas penjahat daripada bekas kyai”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s